Tafsir Ibnu Kathir : Muqaddimah oleh Penyusun

11 Oktober 2010 § Tinggalkan komen


Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para Sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari Kiamat.

Kajian serta upaya memahami dan memahamkan al-Qur-an,belaiar dan mengajarkannya kepada orang lain termasuk tujuan amat luhur dan sasaran yang sangat mulia. Dan ilmu tentang al-Qur-an yang paling sempurna adalah ilmu tafsir.

Yang ada di hadapan pembaca sekarang ini adalah tafsir seorang ulama, faqih juga seorang ahli hadits, Imaduddin Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir ad-Dimasyqi al-Qurasyi asy-Syafi’i. Lahir pada tahun700 H dan meninggal dunia pada tahun 774 H. Ia terkenal sebagai seorang yang sangat tinggi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang ilmu tafsir, hadits, dan sejarah. Sangat banyak buku yang telah beliau tulis dan dijadikan rujukan oleh para ulama, hafizh dan ahli bahasa.

Tafsirnya ini merupakan tafsir terbesar dan mengandung manfaat yang luar biasa banyaknya. Sebuah tafsir yang paling besar perhatiannya terhadap manhaj tafsir yang benar, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir sendiri dalam muqaddimah yang disampaikannya:

“Metode penafsiran yang paling benar, yaitu penafsiran al-Qur-an dengan al-Qur-an. Jika anda tidak dapat menafsirkan al-Qur-an dengan al-Qur-an, maka hendaklah anda menafsirkannya dengan hadits. Dan jika tidak menemukan penafsirannya di dalam al-Qur-an dan hadits, maka hendaklah merujuk pada pendapat para sahabat, karena mereka lebih mengetahui berdasarkan konteks dan kondisi yang hanya merekalah menyaksikan nya, selain itu mereka iuga memiliki pemahaman yang sempurna, pengetahuan yang benar, dan amal shalih. Namun jika tidak ditemukan juga, maka kebanyakan para imam merujuk kepada pendapat para Tabi’in dan Ulama’ sesudahnya.”

Tafsir ini ditulis pada saat perhatian orang-orang sangat besar dalam mempelajari dan mengajarkan ilmu-ilmu syari’ at, mengamalkan, mencatat dan memeliharanya. Dalam hal itu mereka mempunyai sumber dan rujukan yangbanyak pada masing-masing bidang ilmu. Dalam sejarah misalnya, mereka memiliki mutiara dari orang-orang yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan tentang sebab-sebab keberhasilan orang-orang bertakwa dan akibat bagi orang-orang lalai. Dalam kezuhudan, mereka memiliki banyak nasehat dan pelajaran, metodologi dan pemikiran, penjelasan, pendekatan, anjuran dan peringatan.

Saat ini adalah saat yang penuh nafsu keserakahan, fitnah, teror, dan cobaan. Cita-cita manusia yang kerdil dan otak mereka yang bimbang disibukkan dan terpenganuh oleh berbagai peristiwa zaman.

Pada saat itulah, peran ulama sangat dibutuhkan, mereka harus mendekatkan ilmu-ilmu syari’at kepada generasi muda saat itu melalui berbagai macam cara. Di antara cara yang terbaik adalah dengan meringkas buku-buku yang ditulis oleh ulama-ulama terdahulu agar sejalan dengan keterbatasan waktu orang-orang zaman sekarang.

Kerena faktor-faktor di atas, dengan memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah saya bermaksud ikut memberikan andil dalam bidang ini. Dan untuk itu saya memilih meringkas tafsir Ibnu Katsir, karena kelurusan akidah yang dianutnya dan tafsir beliau adalah tafsir yang merangkum berbagai bidang ilmu syari’at.

Dalam melakukan peringkasan kitab ini, saya melihat cara terbaik adalah dengan membiarkan apa adanyakalimat-kalimat yang ditulis oleh Ibnu Katsir sendiri, dan menghilangkan beberapa hal yangsaya anggap tidak perlu, seperti cerita, hadits-hadits dha’if, dan sebagainya.

Cara ini saya tempuh dengan melalui berbagai macam kesulitan, terutama dalam penyusunan alinea sebelum penghilangan beberapa bagian alinea tersebut dengan alinea sesudahnya. Dan untuk itu diperlukan pengulangan bacaat demi bacaan paling tidak tiga kali. Bacaan pertama untuk mengenali mana yang akan dibiarkan tetap dan mana yang akan dihilangkan. Bacaan kedua dimaksudkan untuk melaksanakan pemilihan hal tersebut. Dan bacaan ketiga dimaksudkan untuk meneliti dan meyakini kebenaran kitab ini setelah dilakukan penghilangan terhadap beberapa bagiannya, khususnya dari sisi susunan.

Untuk proses peringkasan ini, saya menempuh waktu tiga tahun secara penuh, dengan kerja keras siang dan malam. Dengan harapan semoga apa yang saya lakukan termasuk dalam timbangan kebaikan.

Setelah selesai melakukan peringkasan secara menyeluruh, saya menela’ahnya kembali dari awal sampai akhir sebanyak dua ka1i. Yang demikian itu saya lakukan dengan tujuan untuk mempermudah para penuntut ilmu dengan-mempersingkat waktu yang berharga bagi mereka.

Setelah dilakukan peringkasan, saya melakukan beberapa penambahan terhadap tafsir ini, yaitu:

  • Penafsiran tigaayat dari surat al-Maa-idah. Nomclr ayat-ayat tersebut adalah 97, 98, 99, dat akhir dari ayat 96.
  • Mentakhrij lebih dari 300 hadits yang dikemukakan penulis tafsir ini (ibnu Katsir) tanpa ada komentar darinya. Dalam mentakhrij hadits-hadits tersebut, kami menyimpulkan semacam hukum terhadapnya secara global, seperti dengan menyatakan, bahwa hadits ini disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih al-Muslim, atau salah satu dari keduanya, dinyatakan shahih atau hasan oleh at-Tirmtdzi, ataupun lainnya, atau dinyatakan shahih oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, atau disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, dan pada umumnya tidak terdapat pada ringkasan ini kecuali yang berkenaan dengan Fadha-il a’mal (keutamaan amal ibadah), asbab ruzul, atau mempunyai hubungan kuat dengan makna ayat.
  • Mengenai hadits-hadits yang dinisbatkan oleh penulis kepada Shahih al-Bukhari dan Shahih al-Mmlirn, atau salah satu dari keduanya, atau dikatakan terdapat dalam kitab shahih, ditegaskan, diriwayatkan secara shahih dari Nabi. Atau yang dikatakan: “hadits ini hasan, berisnad hasan, jayyid, atau semisalnya dalam bentuk-bentuk pernyataan yang dapat diterima oleh para ahli hadits, maka saya biarkan seperti yang dihukumi penulis, karena beliau lebih mengeni dan memahami.
  • Sedangkan hadits-hadits yang dihukumi Ibnu Katsir sebagai hadits maudhu’, munkar, dha’if, gharib, secara mutlak yang disertai indikasi kelemahan, atau kemajhulan sebagian perawi sanadnya, atau sebagai hadits munqathi’, mauquf, maka semua hadits tersebut saya hilangkan kecuali sedikit sekali, yaitu yang mempunyai faedah penting dan tidak terdapat pada hadits lain, dengan syarat hadits tersebut bukan hadits maudhu’, munkar, dan sangat dha’if.
  • Menisbatkan qira’at dan riwayatnya kepada para tokohnya secara rinci dan teliti, yang oleh penulis buku ini disampaikan secara ijmal (global).
  • Menafsirkan lafazh-lafazh yang ditulis dalam kitab ini yang sulit dipahami maksudnya oleh para penuntut ilmu.
  • Melakukan ralat terhadap sedikit kesalahan dalam kitab berkenaan dengan qira’at ataupun yanglain.

Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa metodologi yang dipergunakan dalam meringkas tafsir ini adalah sebagai berikut:

  • Pertama, menghilangkan hadits-hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah kecuali sedikit sekali yang tetap kami biarkan, khususnya yang berkenaan dengan keutamaan amal ibadah, sebagaimana yang telah kami kemukakan di atas.
  • Kedua, menghilangkan nama-nama rijal sanad (perawi-perawi hadits) kecuali nama teratas dari paling bawah, misalnya Abu Hurairah dan al-Bukhari. Dan mungkin membiarkan sebagian sanad karena susunannya tidak dapat untuk dihilangkan.
  • Ketiga, menghilangkan hadits yang biasanya diulang berkali-kali, yang saya anggap pengulangan itu tidak membawa banyak manfaat khususnya dalam pembahasan masalah-masalah fiqhiyah.
  • Keempat, menghilangkan israiliyat, cerrta, dan kisah yang tidak benar dan tidak berkaitan dengan maksud dari ayat al-Qur-an.
  • Kelima, menghilangkan muqaddimah yang disampaikan penulis yang mengangkat masalah tingkatan-tingkatan tafsir, beberapa pembahasan mengenai perbezaan pendapat, dan peringatan untuk tidak menafsirkan al-Qur-an dengan ra’yu (pandapat) atau tanpa ilmu. Cukup bagi seseorang sebagai peringatan dan perhatian, agar tidak menafsirkan al-Qur-an dengan menggunakan ra’yu, karena demikian itu adalah dusta kepada Allah.

Firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka tiadalah beruntung.” (QS. Yunus:69)

Tidak dicantumkan muqaddimah yang disampaikan penulis, karena terlalu panjang. Dan pendahuluan singkat ini saya kira sudah cukup. Bagi yang ingin meneliti dan mengetahui rijalus sanad, pembahasan secara panjang lebar, dan lain sebagainya, maka hendaklah ia merujuk pada kitab aslinya.

Cukup sekian, dan juga ikut serta melakukan koreksi terhadap kitab ini, Syaikh Muhammad al-Ighatsah anak pentahqiq dan Syaikh Muhammad ‘Abdullah Zainal Abidin, salah seorang anggota pen-tash’ hih Mus’haf pada Lembaga Raja Fahd untuk percetakan al-Qur-an. Dan kitab ini saya namakan “Lubaabut Tafsiir.”

Penyusun : DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh

Harga Jualan : RM 700.00 (10 jilid)

Diskaun 10%

Harga Selepas Diskaun : RM 630.00

Kos bungkusan dan penghantaran : PERCUMA untuk Semenanjung Malaysia

Untuk maklumat detil tulis emel kepada kami di riduankhairi.enterprise@gmail.com

Tagged: ,

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tafsir Ibnu Kathir : Muqaddimah oleh Penyusun at Kitab Tafsir Muktabar.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: