Tafsir As-Sa’di : Pengantar Peneliti

31 Oktober 2010 § Tinggalkan komen


KATA PENGANTAR PENELITI

Segala puji hanya milik Allah, kita memujiNya, memohon pertolonganNya, mengharap ampunanNya, dan bertaubat kepada Nya serta kita berlindung kepadaNya dari kejahatan diri kita dan dari keburukan perbuatan-perbuatan kita, barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang telah disesatkan maka tidak akan ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya, saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali hanyalah Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, dan saya bersaksi bahwa sanya Muhammad adalah hamba dan RasuiNya, shalawat dan salam atasnya, para keluarganya dan para sahabatnya dengan salam yang berlimpah.

Amma ba’du,

Sesungguhnya perhatian yang paling patut untuk diarahkan kepada suatu hal yang harus dipelalari dan pencapaian tujuan yang paling utama untuk diperoleh pengetahuannya adalah sesuatu yang dalam mengetahuinya maka Allah menjadi, ridha dan bagi seorang yang mengetahuinya adalah petunjuk kepada jalan yang lurus, dan bahwasanya hal yang mencakup semua itu bagi orang yang mengharapkannya adalah kitabullah yang tidak ada keraguan padanya dan apa yang diturunkanNya yang tidak ada keraguan terhadapnya, yang berhasil dengan mendapatkan tabungan yang baik dan balasan yang sempurna adalah pembacanya, yang tidak ada padanya kebatilan dari hadapannya maupun dari belakangnya sebagai sesuatu yang diturunkan  oleh Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Allah menurunkannya kepada NabiNya Muhammad dengan bahasa Arab yang jelas, Allah berkata,

Dan sesungguhnya al-Qur’ an ini benar-benar diturunknn oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (]ibril )  ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas’” (Asy-Syu’ara:192-195).

Lalu beliau menyampaikan al-Qur’an itu kepada manusia dengan penyampaian yang benar, dan tidaklah Allah mencabut nyawanya kecuali setelah beliau telah menyampaikan dan menjelaskan apa yang diturunkan kepadanya dalam kitab tersebut sebagaimana kataNya,

Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl : 44)

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini melainkan agar kamu agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereke perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat kepada kaum yang beriman”(An-Nahl: 64).

Ibnu Jarir ketika menafsirkan ayat menyebutkan, “Allah yang tinggi penyebutanNya berkata  kepada NabiNya, Muhammad , “dan tidaklah Kami turunkan kepadamu kitab Kami, dan Kami utuskamu sebagai Rasul kepada makhluk Kami kecuali hanya agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan padanya dari agama Allah” .

Dan telah jelas sekali menunjukkan bahwasanya para sahabat telah menerima tafsiran Al-Qur’an dari Rasulullah. Apabila seseorang dari mereka apabila mempelajari sepuluh ayat darinya, ia tidak akan berpindah kepada ayat lain kecuali setelah memahami maknanya dan mengamalkannya.

Abu Abdurrahman as-Sulami seorang pembesar tabi’in berkata, “Kami diberitahu bahawa para sahabat meminta Rasulullah untuk membacakan kepada mereka al-Qur’an. Mereka akan mempelajari 10 ayat dan beramal dengannya. Setelah beramal barulah mereka mempelajari ayat-ayat yang lain. Sehingga kami mempelajari al-Qur’an dan mengamalkan secara keseluruhan.” (Hadith Riwayat Al-Hakim, sahih menurut Adz-Dzahabi dan Ahmad Syakir)

Dan para sahabat, apabila ada suatu kemusykilan, mereka bertanya terus kepada Nabi, seperti ketika turun ayat,

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman.” (Al-An’am: 82)

Maka para sahabat Rasulullah berkata, “Siapakah di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?”

Beliau berkata,

Tidaklah seperti apa yang kalian katakan, ‘Dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengnn kezhaliman’ maksudnya adalah dengan kesyirikan.” (HR Bukhari & Muslim)

Tafsir Sahabat

Kemudian yang menjelaskan dan menafsirkannya setelah Nabi  yang merupakan sebaik-baik manusia dalam penjelasan-nya dan paling jujur keimanannya dan paling dalam keilmuannya adalah para sahabat (yaitu orang-orangyang dengan mereka tegak-

lah al-Qur’an itu, dan dengannya mereka bergerak, dengan mereka al-Qur’an berbicara, dan dengannya mereka berkata orang-orangyang dianugerahkan oleh Allah keilmuan dan hikmah yang merupakan keistimewaan mereka terhadap seluruh pengikut para Nabi).

Mereka itulah para sahabatnya, yang dipilih oleh Allah di antara seluruh makhluk agar menemani NabiNya selama dua puluh tiga tahun, dan al-Qur’an turun kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri yang mereka hidup dengarnya maka, mereka membelanya dan mengamalkannya.

Dan ahli tafsir yang paling terkenal di antara mereka adalah para khalifah ar-Rasyian, Ubay Bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin az-Zubair.

Dan yang paling terkenal riwayatnya dalam tafsir adalah Abdullah bin Mas’ud yang berkata tentang dirinya, “Demi Allahyang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain diriNya, tidaklah satu surat yang diturunkan dari kitabullah, kecuali saya yang paling tahu di mana ia diturunkan, dan tidaklah satu ayat diturunkan dari kitabullah, kecuali saya paling tahu tentang pembahasan yang diturunkan, dan apabila saya mengetahui seseorang yang lebih mengetahui dariku tentang kitabullah di mana unta mampu sampai kepadanya, pastilah saya akan menungganginya kepadanya.” (HR Bukhari)

Dan Abdullah bin Abbas adalah ahli tafsir al-Qur’an yang telah didoakan oleh Nabi  seraya berkata,

“Ya, Allah! pahamkanlah ia dalam agama, dan ajarkanlah ia tafsir” (HR Ahmad, sahih menurut Ahmad Syakir).

Ibnu Mas’ud berkata tentangnya, “Sebaik-baik ahli tafsir al-Qur’an adalah Ibnu Abbas” (HR Ahmad, hassan menurut Ibn Hajar al-Asqalani)

Tafsir Tabi’in

Kemudian tafsir ini setelah para sahabat dilanjutkan oleh para Tabi’in, khususnya para sahabat Abdullah bin Abbas di Makkah seperti Mujahid, Said Bin Jabir dan semisal mereka. Mujahid ber-kata, “saya ajukan sebuah mushaf kepada Ibnu Abbas dengan

tiga kali pengajuan dari pembukaannya hingga penutupnya dan, berhenti pada setiap ayat darinya lalu saya menanyakan tentang ayat itu kepadanya”. Oleh karena itu, ats-Tsauri berkata,”Apabila kamu mendapatkan tafsir dari Mujahid, maka cukuplah bagimu.”

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata, “oleh karena itulah yang bersandar kepada tafsirnya adalah Asy-syafi’i dan Bukhari serta selain mereka berdua dari para ulama, demikian juga Imam Ahmad dan lain-lainnya dari orang-orang yang mengarang tafsir selalu mengulang-ulang jalan dari Mujahid lebih banyak dari jalan selainnya.”

Demikian juga para sahabat Abdullah bin Mas’ud  seperti Alqamah, Masruq dan semisal mereka, Ibnu Mas’ud berkata,”Tidaklah saya membaca sesuatu dan tidak pula saya mengetahui-nya kecuali Alqamah membacanya dan mengetahuinya’. (Siyar A’lam an-Nubala)

Dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memiliki perincian yang memadai yang tidak mungkin dapat ditinggalkan oleh seorang yangmembaca buku-buku tafsir agar mengetahui isnad-isnad yang paling populer yang diriwayatkan dari para Tabi’in dan orang-orang setelahnya, beliau menjelaskan dalamnya kondisi orang yang meriwayatkan tafsir dari para Tabi’in dan orang-orang setelahnya.

Maksudnya adalah kita dapat mengetahui bahwasanya para sahabat dan Tabi’in telah menafsirkan al-Qur’an, mereka telah menjelaskan lafazh beserta makna-maknanya, maka kewajiban kita adalah mereferensikan perkataan mereka apabila kita tidak mendapatkan suatu tafsir dari al-Qur’an atau Sunnah. Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka dalam hal ini sangat sedikit sekali,bahkan jarang terjadi, dan sebagian besar perselisihan yang ada diantara mereka itu adalah perselisihan bentuk dan bukan perselisihan yang saling bertentangan, hal ini sebagaimana disebutkan dan dijelaskan oleh syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam”Muqaddimah at-Tafsir“.

Kemudian para ulama memfokuskan perhatiannya kepada kompilasi agar dapat mengumpulkan tafsir-tafsir para sahabat . Adapun para Tabi’in yang bersandar kepada mereka seperti Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Abd bin Humad. Ibnu Hajar berkata, “Tafsir-tafsir yang empat ini sedikit sekali ada sesuatu yang menyimpang dalam tafsir yang marfu’ dan mauquf pada para sahabat dan maqthu’ dari para-Tabi’in.”

Kemudian berturut-turutlah setelah itu para ulama mengarang tafsir dengan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka dalam madzhab-madzhab mereka, akidah-akidah mereka, dan perhatian ilmiah mereka. Dan di antara mereka yang mengarang dalam bidang itu adalah Abu Muhammad bin ar-Husiin al-Baghawi (w 56H), Abu al-Faraj Abdurrahiran bin al-Jauzi (w 596 H), Abu Abdullah Muhammad bin Umar ar-Razi (w 606 H), Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi (w 677 H), Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Hayyan an-Nahwi al-Andalusi (w 745 H), al-Hafizh Imaduddin Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir (w 774 H), Abdurrahman ats-Tsa’alabi (w 876 H), Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi (w 9ll H), Muhammad bin Ali asy-Syaukani (w  1250 H), Mahmud Syihabuddin al-Alusi (w 1270 H), Muhammad Jamaiuddin al-Qasimi (w 1332 H), Muhammad al-Aminbin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi  (w 1393 H), dan lain sebagainya dari para ulama kaum muslimin yang telah menulis dalam ilmu tafsir.

Ibnu Jarir berkata, “sebaik-baik ulama penafsir yang paling hampir dengan kebenaran dalam menafsirkan al-Qur’an adalah yang paling jelas hujjahnya pada tafsiran maupun takwilannya, di mana takwil-nya itu berasal dari Rasulullah tanpa umatnya dari riwayat-riwayat Rasulullah yang benar, baik dari segi periwayatan yang banyak atau dari segi perawi-perawi yang adil dan kuat atau dari segi penunjukan makna yang dinisbatkan atas keabsahannya, dan mereka paling shahih keterangannya terhadap apa yang diterjemahkan dan apa yang dijelaskan dalam hal itu di mana dia diketauir ilmunya dari segi lisannya, baik dengan keterangan-keterangan dari syair-syair yang berlaku, atau dari loghat mereka dan bahasa mereka yang mendalam dan terkenal, siapa pun dia orangnya dari penafsirdan penakwil, setelah tafsiran dan takwliannya tidak menyimpang dari pendapat-pendapat para salaf dari para sahabat, para pemimpin umat dan para khalaf dari para Tabi’in dan ulama umat.”

Dan di antara karangan-karangan dalam bidang tafsir yang diakui dan dipuji oleh para ulama pada zarnan sekarang ini, memperoleh ketenaran yang begitu luas dan ditakdirkan oleh Allah mendapatkan tempat yang cukup baik dalam hati kaum muslimin adalah tafsir Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (w 1376 H).  Hal ini disebabkan karena keistimewaan bukinya tersebut dalam beberapa hal:

Pertama. Kesungguhan penulis dalam membuat tafsir yang ringkas hanya sebatas makna global. Kebanyakan  penafsir al-Qur’an itu tidak lepas membahas secara panljnq lebar bahkan hingga menyimpang dari topik tafsirannya dari kitabullah, atau mereka membatasi diri membahas makna-makna bahasa atau fiqhiyah saja, maka beliau menghendaki dalam tafsirannya itu untuk membahas makna yang dimaksudkan oleh ayat sedangkan lafazhnya hanya sebagai jambatan baginya agar manusia dapat mengetahui makna kalam Aalah hingga mereka dapat mengambil petunjuk dari pengetahuan tentangnya, dan berikhlak dengan akhlaknya dan adab-adabnya dengan memakai metode  yang paling mendekati.

Kedua. Pilihan-pilihan syaikh yang dihasilkan oleh kecerdikan akalnya, kejernihan hatinya, kecepatan pikirannya terhadap perkataan-perkataan para salaf dari para sahabat, para tabi’in dan para ulama umat’ yangdisebutkan dalam tafsir, sehingga beliau seolalah-olah mengumpulkan perkataan dan pendapat yang muncul dalam tafsir makna ayat kemudian beliau mengungkapkannya dengan gaya bahasa yang telah diketahui.

Ketiga. Tafsir beliau diistimewakan juga dengan kata-katan yang sederhana dan penjelasannya yang mudah dimengerti, yang tidak dipaksa-paksakan dan tidak ruwet, juga tidak bertele-tele dan memaniang-manjangkan, yaitu dengan suatu gaya yang dapat dipahami oleh orang yang berilmu maupun yang tidak.

Keempat. Penyusunan kalimat yang begitu rapi dan mengaitkan suatu kalimat dengan kalimat yang lain yang sesuai tanpa ada kesusahan dalam merangkai ungkapannya, dan inilah suatu hal yang paling menonjol dari tafsir beliau.

Kelima. Buku ini mengandung banyak faedah ilmiah dan pendidikan yang disarikan dari kitabullah yang dijelaskan oleh penulis di sela-sela perbahasannya terhadap tafsir ayat, faedah-faedah itu sangatlah beragam dari segi tauhid, fikih, sirah, nasihat-nasihat, akhlak dan lain-lainnya.

Keenam. Inilah keistimewaan yang terpenting adalah terhindarnya buku tafsir ini dari takwil-takwil yang keliru, hawa nafsu, bid’ah, dan Israiliyat. Pengarangnya bersandar dari teks-teks-Qur’an dan as-Sunnah, dan beliau juga mengikuti riwayat-riwayat yang disebutkan dari as-Salaf ash-Shalih.Yang kulakukan dalam buku ini;

1. Saya sangat memperhatikan harakat teks buku tersebut, dan saya berusaha untuk menerbitkannya dengan terhindar dari kalimat yang hilang, menyimpang dan kesalahan cetak yang terdapat pada cetakan-cetakan sebelumnya, hal ini saya lakukan dengan bersandar kepada naskah asli pertama, ada pun kalimat yang hilang yang terdapat padanya ketika penyalinan maka sesungguhnya saya membandingkannya dengan naskah asli kedua lalu saya berikan dua tanda kurung buka dan tutup padanya seperti ini (…).

Sebagaimana juga saya berusaha menjelaskan perbedaan yang paling menonjol antara salinan-salinan tersebut pada catatan kaki dengan maksud melakukan peringkasan. Adapun bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh tentang hal itu maka lihat kembali cetakan pertama dari buku ini yang berjumlah empat jilid.

2. Saya juga melakukan pengoreksian terhadap beberapa ayat yang dijadikan sebagai bukti penguat keterangan dari penulis di sela-sela tafsirannya tanpa ada isyarat kepada hal itu dan saya, kecuali ayat-ayat yang menjadi topik tafsiran penulis maka saya memberikan isyarat kepadanya pada catatan kaki.

3. Sebenarnya ada beberapa ayat yang terlewatkan oleh penulis yang tidak ditafsirkan, sesungguhnya hal ini telah saya jelaskan pada catatan kakinya.

4. Saya berikan sandaran bagi hadits-hadits yang disebutkan dalam tafsir ini.

Akhirnya, Saya memohon kepada Allah semoga saja saya telah dibimbing dalam menerbitkan buku tafsir ini dengan gambaran yang saya kira sesuai dengan yang dikehendaki oleh penulis dalam buku tersebut, maka apapun yang benar maka hal itu ada-lah dari bimbingan Allah, dan apa pun yang salah maka dari saya pribadi dan dari setan la1u saya memohon ampunan kepada Allah darinya, dan semoga Al1ah memberikan ganjaran sebaik-baiknya bagi seluruh pihak yang telah memberikan maklumat kepada saya dengan berbagai saran dan pengoreksiannya, agar saya dapat melaksanakan perbaikan pada cetakan-cetakan di masa yang akan datang, insya Allah. Demikian juga saya memohon kepada A1lah agar menjadikan usaha saya ini hanya tulus ikhlas karenaNya semata, dan menetapkan balasan dan ganjaran untuk saya, karena Dia adalah DzatYang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Shalawat dan salam runtuk Nabi kita Muhammad, beserta para keluarga dan sahabatnya semua.

Sa’d bin Fawwaz ash-Shamil

Tagged: , , ,

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tafsir As-Sa’di : Pengantar Peneliti at Kitab Tafsir Muktabar.

meta

%d bloggers like this: